Sabtu, 15 Januari 2022

Pengendalian penyakit cikungunya Oleh kelompok 6 Doni Anggara,Dwi Rahayu Kustina,Eneng Linda

 

Pengendalian penyakit cikungunya

Oleh kelompok 6

Doni Anggara

Dwi Rahayu Kustina

Eneng Linda


Di musim penghujan ini banyak sekali penyakit yang bisa berdatangan dikarenakan daya tahan tubuh menurun dan kita selain itu  tubuh kita yang harus dijaga supaya sehat lingkungan pun harus di jaga supaya bersih dan terhindar dari bebagai macam penyakit, dikarenakan tempat yang kotor juga salah satu membuat kita terjangkit penyakit cikungunya.

Lalu apa sih yang dimaksud penyakit cikungunya ?

Chikungunya adalah re-emerging disease atau penyakit lama yang kemudian merebak kembali. Penyakit chikungunya ini ialah sejenis demam yang diakibatkan oleh virus keluarga Togaviridae, genus alfavirus yang ditularkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini cenderung menimbulkan kejadian luar biasa pada sebuah wilayah.

Di Indonesia, penyakit ini dilaporkan pertama kali di Samarinda pada tahun 1973, kemudian berjangkit di Kuala Tungkal, Jambi tahun 1980. Tahun 1983 merebak di Martapura, Ternate, Yogyakarta. Setelah menghilang hampir 20 tahun, kejadian luar biasa (KLB) demam Chikungunya terjadi pada awal tahun 2001 di Muara Enim, Sumatera Selatan dan Aceh, kemudian muncul di Bogor bulan Oktober. Demam Chikungunya berjangkit lagi di Bekasi (Jawa Barat), Purworejo dan Klaten (Jawa Tengah) pada tahun 2002. Selanjutnya berkembang hingga sekarang ke berbagai wilayah lain di Indonesia.

Istilah chikungunya berasal dari bahasa Swahili Afrika, yang berarti (posisi tubuh) melengkung, hal ini mengacu pada postur penderita yang membungkuk akibat nyeri sendi hebat (arthralgia) pada lutut, pergelangan, jari kaki dan tangan serta tulang belakang. Chikungunya ini bersifat self limiting, karena dapat membatasi diri sendiri dan akan sembuh sendiri.

Penyebab dan gejala Penyakit Chikungunya ?

Penyebab penyakit ini adalah virus chikungunya , yang dikenal dengan nama Alphavirus dari famili Togaviridae dan ditularkan lewat nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Masa inkubasi virus untuk menyerang tubuh adalah 2-4 hari, dan gejala klinis dapat berlangsung selama 3-10 hari. Gejala ini bisa hilang sendiri, namun rasa nyeri masih tertinggal selama berhari-hari sampai berbulan-bulan.

Gejala utama terkena penyakit Chikungunya adalah demam tinggi, sakit perut, mual, muntah, sakit kepala, nyeri sendi dan otot, serta bintik-bintik merah terutama di badan dan tangan. Gejala ini menyerupai Demam Berdarah Dengue, tetapi pada Chikungunya tidak terjadi perdarahan hebat, renjatan (Schok) ataupun kematian.

Seringkali demam ini dikatakan sebagai flu tulang karena satu di antara gejala yang khas adalah timbulnya rasa pegal-pegal, ngilu, juga timbul rasa sakit pada tulang-tulang. Demam chikungunya dapat menyerang semua usia, baik anak-anak maupun dewasa. Di daerah endemis, seringkali penderita secara mendadak akan mengalami demam tinggi selama lima hari, sehingga dikenal pula istilah demam lima hari. Pada anak kecil dimulai dengan demam mendadak, kulit kemerahan. Ruam-ruam merah itu muncul setelah 3-5 hari. Mata biasanya merah disertai tanda-tanda seperti flu.

Pada anak yang lebih besar, demam biasanya diikuti rasa sakit pada otot dan sendi, serta terjadi pembesaran kelenjar getah bening. Pada orang dewasa, gejala nyeri sendi dan otot sangat dominan, dan menimbulkan kelumpuhan sementara karena rasa sakit bila berjalan.

Namun demikian, Chikungunya tidak menyebabkan kematian dan kelumpuhan. Seseorang yang terserang penyakit ini setelah sehat akan membentuk antibodi yang akan membuat mereka kebal terhadap wabah penyakit ini di kemudian hari. Dengan demikian, kecil kemungkinan bagi mereka untuk kena lagi.

Penanganan dan Pengobatan

Seringkali penderita chikungunya meyakini bahwa penyakit ini dapat mengakibatkan kelumpuhan, karena rasa nyeri pada tulang-tulangnya terutama di seputar persendian sehingga tidak berani menggerakkan anggota tubuh. Tetapi sesungguhnya hal ini karena keengganan si penderita melakukan gerakan karena rasa ngilu pada persendian. Karena vaksin untuk pencegahan ataupun obat khusus untuk Chikungunya belum ada, maka penanganannya cukup dengan minum obat penurun panas dan penghilang rasa sakit. Selain itu yang penting adalah cukup istirahat, minum dan makanan bergizi. Rasa ngilu pada persendian dapat dihilangkan dengan obat penghilang rasa sakit dan vitamin untuk penguat daya tahan tubuh.

Cara Pengendalian penyakit chikungunya

1.    Pencegahan gigitan nyamuk

Ini bisa dilakukan dengan pemasangan kelambu, penggunaan kasa anti nyamuk Aedes Albopictus, dan pemakaian obat nyamuk oles, bakar, atau semprot. Berdasarkan laporan hasil penelitian, tidur siang berhubungan dengan gigitan nyamuk Aedes, sehingga memakaikan baju lengan panjang dan celana panjang kepada anak yang tidur siang merupakan upaya perlindungan yang penting

2. Pemberatasan jentik

Istilah pemberantasan sarang nyamuk sebenarnya kurang tepat karena nyamuk beristirahat di semak-semak, gantungan baju bekas pakaian, gorden, dan tempat sejuk dan lembab lainnya. Nyamuk Aedes Albopictus. akan bertelur di permukaan air yang jernih, seperti tempat penampungan air, vas atau pot bunga, air buangan dispenser, penampunga air AC, dan tempat minum burung

Pemberantasan jentik dibagi 3 cara yaitu:

a.       Fisik, dengan 3 M plus (Menguras, Menutup, Mengubur).

b.      Biologis, dengan menebar ikan pemakan jentik di tempat penampungan air.

c.       Kimiawi, dengan pemberian larvasida (pembasmi larva) berupa:

1)      Temephos yang berbentuk granul, dosis 1 ppm atau 10 garam (± 1 sendok makan) untu 100 Liter air yang diberikan setiap 3 bulan.

2)  Insect growth regulator (Pengatur Pertumbuhan Serangga), seperti methoprene dan phyriproxiphene yang bisa menjaga jentik sampai 3-6 bulan.

3. Pemberatasan nyamuk

Ini dilakukan untuk memutus rantai penularan dengan penyemprotan massal menggunakan insektisida cair 2 kali dengan selang waktu 1 minggu.

Indeks kasus penyakit cikungunya tahun 2010 - 2019

No

Tahun

Jumlah kasus

1

2010

52703

2

2011

2998

3

2012

1831

4

2013

15324

5

2014

7341

6

2015

2255

7

2016

1702

8

2017

123

9

2018

97

10

2019

5042

Sumber: Ditjen P2P Kemenkes RI, 2020

 



Berdasarkan kasus diatas bahwa pada tahun 2018 mengalami penurunan sebanyak 94 kasus dan ketika 2019 kasus meningkat dengan jumlah  5042 dimana insiden kasus ini menjelaskan ada peningkatan kasus penyakit  cikungunya pada tahun 2019 yang membuat kita harus menanggulagi penyakit tersebut dengan cara menendalikan dan menggobati penyakit cikungunya supaya penyakit tersebut tidak meningkat untuk tahun kedepanya.

 

 


Daftar Pustaka

Hadi, U. K. (2013). Penyakit Tular Vektor: Penyakit Chikungunya.

Masrizal, M. (2010). Penyakit Menular Chikungunya. Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas5(1), 41-46.

Tusila, E. D. (2016). GAMBARAN PENGETAHUAN MASYARAKAT DEWASA TENTANG PENYAKIT CHIKUNGUNYA (Doctoral dissertation, STIKES Panti Waluya Malang).

Rabu, 15 Mei 2019

PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN DAN STATUS PEKERJAAN IBU TERHADAP PEMBERIAN JENIS MAKANAN PENDAMPING ASI (MPASI) PADA ANAK USIA 6-24 BULAN


PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN DAN STATUS PEKERJAAN IBU TERHADAP PEMBERIAN JENIS MAKANAN PENDAMPING ASI (MPASI) PADA ANAK USIA 6-24 BULAN

NAMA : Dwi Rahayu Kustina
NIM : C1AA18037




Di indonesia pemberian MPASI dini masih sering terjadi di karenakan kurang nya pengetahuan ibu,kurang nya informasi dalam pemberian mpasi,pekerjaaan ibu, dll
 Apa itu MP-ASI ?? mpasi adalah makanan atau minuman yang mengandung zat gizi, diberikan kepada bayi atau anak usia 6-24 bulan guna memenuhi kebutuhan gizi selain dari ASI (Depkes, 2006). Dan Peranan MPASI sama sekali bukan untuk menggantikan ASI melainkan hanya untuk melengkapi ASI.

Namun masih banyak ibu yang memberikan makanan pendamping ASI kurang dari 6 bulan. Karena keyakinan ibu bahwa bayi tidak cukup gizi jika diberikan ASI saja, Jika memberikan makanan sebelum usia enam bulan, bayi belum bisa mencerna makanan dengan baik akan memberikan peluang bagi berbagai jenis kuman.

Pemberian MP-ASI terlalu dini banyak menimbulkan dampak bagi kesehatan bayi antara lain penyakit diare dan dapat menyebabkan kematian pada bayi. Menurut World Health Organization (WHO)/ United Nations Children’s Fund (UNICEF,2012), lebih dari 50% kematian anak balita terkait dengan keadaan kurang gizi, dan dua pertiga diantara kematian tersebut terkait dengan praktik pemberian makan yang kurang tepat pada bayi dan anak, seperti tidak dilakukan inisiasi menyusui dini dalam satu jam pertama setelah lahir dan pemberian MPASI yang tidak sesuai atau terlambat diberikan.

Apasih yang membuat ibu memberikan MPASI dini.?? Banyak faktor yang mengpengaruhi pemberian MP-ASI dini seperti faktor Pengetahuan dan pendidikan juga,mempengarui dalam pemberiaan MP-ASI pada bayi. Dan pemberian waktu yang tepat kapan harus memberi MP-ASI. Menurut Notoadtmodjo (2010) pendidikan adalah kegiatan atau proses belajar yang terjadi di mana saja. Pendidikan rendah belum tentu berpengetahuan rendah. Pengetahuan tidak hanya diperoleh dari pendidikan formal. Pengetahuan bisa diperoleh melalui pendidikan non  formal, seperti pengalaman pribadi, media, lingkungan, dan penyuluhan kesehatan.

    Hal itu  dibuktikan dari hasil penelitian Kusmiyati (2014) yang menyatakan bahwa pendidikan dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi, sehingga makin baik pengetahuannya, akan tetapi seseorang yang berpendidikan rendah belum tentu berpengetahuan rendah. Dan faktor Status pekerjaan juga mempengaruhi dalam pemberian MP-ASI.Pemberian Jenis makanan dalam pekerjaan mempengaruhi juga pemberian jenis lauk nabati, sayur dan buah. Ibu bekerja lebih memilih memberi MP-ASI dini dan pemberian susu formula kepada bayinya karena waktu yang tidak mencukupi untuk memberikan Asi esklusif pada bayi. Hal ini sejalan dengan penelitian Sri (2008) yang menyatakan bahwa beberapa hambatan yang dirasakan ibu bekerja dalam pratik menyusui secara ekslusif adalah jarak rumah yang jauh, tidak ada fasilitas  ditempat kerja agar ibu dapat menyusui bayinya. sebagaian ibu rumah tangga yang banyak memiliki waktu luang untuk merawat dan memberikan ASI pada anaknya. Ibu yang dikatakan tidak bekerja, ibu yang hanya berada di rumah yang fokus mengerjakan pekerjaan rumah dan mengurus anak.  Jadi menurut pemaparan diatas pemberian mpasi di pengaruhi oleh pengaruh pengetahuanan,pendidikan ibu, pekerjaan,linkungan dll.

















DAFTAR PUSTAKA


Andriani,E., & Ratih Kurniasaru,,(2018). Pengaruh tingkat pendidikan dan status pekerjaan ibu  terhadap pemberian jenis makanan pendamping asi (mpasi) pada anak usia 6-24 bulan  di kecamatan telagasari tahun 2018,PP 1-19.
Kadek N.,&Musruroh,(2018) pengetahuan dan pekerjaan ibu berhubungan dengan pemberian mp-asi dini di desa ngampin wilayah kerja puskesmas ambarawa, Jurnal SIKLUS Vol.07 No.2  PP1-10.
Nababan,L.,& ,SariWidyaningsih.,(2018)Pemberian MPASI dini pada bayi ditinjau dari  pendidikan dan pengetahuan ibu, Jurnal Keperawatan dan Kebidanan Aisyiyah Vol.14 No.1 PP 32-39.
Reda,RE.,Dkk.,(2019) Time to initiate complementary feeding and associated factors among mothers with children aged 6–24 months in Tahtay Maichew district, northern Ethiopia,PP 1-8
Helle,C.,Dkk, Timing of complementary feeding and associations with maternal and infant characteristics: A Norwegian cross-sectional study PP 1-20