Pengendalian penyakit cikungunya
Oleh kelompok 6
Doni Anggara
Dwi Rahayu Kustina
Eneng Linda
Di musim penghujan ini banyak sekali penyakit yang bisa
berdatangan dikarenakan daya tahan tubuh menurun dan kita selain itu tubuh kita yang harus dijaga supaya sehat
lingkungan pun harus di jaga supaya bersih dan terhindar dari bebagai macam
penyakit, dikarenakan tempat yang kotor juga salah satu membuat kita terjangkit
penyakit cikungunya.
Lalu apa sih yang dimaksud penyakit cikungunya ?
Chikungunya adalah re-emerging disease atau penyakit lama yang kemudian
merebak kembali. Penyakit chikungunya ini ialah sejenis demam yang diakibatkan
oleh virus keluarga Togaviridae, genus alfavirus yang ditularkan oleh gigitan
nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini cenderung menimbulkan kejadian luar biasa
pada sebuah wilayah.
Di Indonesia, penyakit
ini dilaporkan pertama kali di Samarinda pada tahun 1973, kemudian berjangkit
di Kuala Tungkal, Jambi tahun 1980. Tahun 1983 merebak di Martapura, Ternate,
Yogyakarta. Setelah menghilang hampir 20 tahun, kejadian luar biasa (KLB) demam
Chikungunya terjadi pada awal tahun 2001 di Muara Enim, Sumatera Selatan dan
Aceh, kemudian muncul di Bogor bulan Oktober. Demam Chikungunya berjangkit lagi
di Bekasi (Jawa Barat), Purworejo dan Klaten (Jawa Tengah) pada tahun 2002.
Selanjutnya berkembang hingga sekarang ke berbagai wilayah lain di Indonesia.
Istilah chikungunya
berasal dari bahasa Swahili Afrika, yang berarti (posisi tubuh) melengkung, hal
ini mengacu pada postur penderita yang membungkuk akibat nyeri sendi hebat
(arthralgia) pada lutut, pergelangan, jari kaki dan tangan serta tulang
belakang.
Chikungunya ini bersifat self limiting, karena dapat membatasi diri sendiri dan
akan sembuh sendiri.
Penyebab dan gejala Penyakit Chikungunya ?
Penyebab penyakit ini
adalah virus chikungunya , yang dikenal dengan nama Alphavirus dari famili
Togaviridae dan ditularkan lewat nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Masa
inkubasi virus untuk menyerang
tubuh
adalah 2-4 hari, dan gejala klinis dapat
berlangsung selama 3-10 hari. Gejala ini bisa hilang sendiri, namun rasa nyeri
masih tertinggal selama berhari-hari sampai berbulan-bulan.
Gejala utama terkena
penyakit Chikungunya adalah demam tinggi, sakit perut, mual, muntah, sakit
kepala, nyeri sendi dan otot, serta bintik-bintik merah terutama di badan dan
tangan. Gejala ini menyerupai Demam Berdarah Dengue, tetapi pada Chikungunya
tidak terjadi perdarahan hebat, renjatan (Schok) ataupun kematian.
Seringkali demam ini
dikatakan sebagai flu tulang karena satu di antara gejala yang khas adalah
timbulnya rasa pegal-pegal, ngilu, juga timbul rasa sakit pada tulang-tulang.
Demam chikungunya dapat menyerang semua usia, baik anak-anak maupun dewasa. Di
daerah endemis, seringkali penderita secara mendadak akan mengalami demam
tinggi selama lima hari, sehingga dikenal pula istilah demam lima hari. Pada
anak kecil dimulai dengan demam mendadak, kulit kemerahan. Ruam-ruam merah itu
muncul setelah 3-5 hari. Mata biasanya merah disertai tanda-tanda seperti flu.
Pada anak yang lebih
besar, demam biasanya diikuti rasa sakit pada otot dan sendi, serta terjadi
pembesaran kelenjar getah bening. Pada orang dewasa, gejala nyeri sendi dan
otot sangat dominan, dan menimbulkan kelumpuhan sementara karena rasa sakit
bila berjalan.
Namun demikian,
Chikungunya tidak menyebabkan kematian dan kelumpuhan. Seseorang yang terserang
penyakit ini setelah sehat akan membentuk antibodi yang akan membuat mereka
kebal terhadap wabah penyakit ini di kemudian hari. Dengan demikian, kecil
kemungkinan bagi mereka untuk kena lagi.
Penanganan dan Pengobatan
Seringkali penderita
chikungunya meyakini bahwa penyakit ini dapat mengakibatkan kelumpuhan, karena
rasa nyeri pada tulang-tulangnya terutama di seputar persendian sehingga tidak
berani menggerakkan anggota tubuh. Tetapi sesungguhnya hal ini karena
keengganan si penderita melakukan gerakan karena rasa ngilu pada persendian.
Karena vaksin untuk pencegahan ataupun obat khusus untuk Chikungunya belum ada,
maka penanganannya cukup dengan minum obat penurun panas dan penghilang rasa
sakit. Selain itu yang penting adalah cukup istirahat, minum dan makanan
bergizi. Rasa ngilu pada persendian dapat dihilangkan dengan obat penghilang rasa sakit dan
vitamin untuk penguat daya tahan tubuh.
Cara Pengendalian penyakit chikungunya
1. Pencegahan gigitan nyamuk
Ini bisa dilakukan dengan pemasangan kelambu, penggunaan kasa anti nyamuk Aedes Albopictus, dan pemakaian obat nyamuk oles, bakar, atau semprot. Berdasarkan laporan hasil penelitian, tidur siang berhubungan dengan gigitan nyamuk Aedes, sehingga memakaikan baju lengan panjang dan celana panjang kepada anak yang tidur siang merupakan upaya perlindungan yang penting
2. Pemberatasan jentik
Istilah
pemberantasan sarang nyamuk sebenarnya kurang tepat karena nyamuk beristirahat
di semak-semak, gantungan baju bekas pakaian, gorden, dan tempat sejuk dan
lembab lainnya. Nyamuk Aedes Albopictus. akan bertelur di permukaan air yang
jernih, seperti tempat penampungan air, vas atau pot bunga, air buangan
dispenser, penampunga air AC, dan tempat minum burung
Pemberantasan
jentik dibagi 3 cara yaitu:
a. Fisik,
dengan 3 M plus (Menguras, Menutup, Mengubur).
b. Biologis,
dengan menebar ikan pemakan jentik di tempat penampungan air.
c. Kimiawi,
dengan pemberian larvasida (pembasmi larva) berupa:
1) Temephos
yang berbentuk granul, dosis 1 ppm atau 10 garam (± 1 sendok makan) untu 100
Liter air yang diberikan setiap 3 bulan.
2) Insect growth regulator (Pengatur Pertumbuhan Serangga), seperti methoprene dan phyriproxiphene yang bisa menjaga jentik sampai 3-6 bulan.
3. Pemberatasan nyamuk
Ini dilakukan untuk memutus rantai penularan dengan penyemprotan massal menggunakan insektisida cair 2 kali dengan selang waktu 1 minggu.
Indeks kasus penyakit cikungunya tahun 2010 - 2019
|
No |
Tahun |
Jumlah kasus |
|
1 |
2010 |
52703 |
|
2 |
2011 |
2998 |
|
3 |
2012 |
1831 |
|
4 |
2013 |
15324 |
|
5 |
2014 |
7341 |
|
6 |
2015 |
2255 |
|
7 |
2016 |
1702 |
|
8 |
2017 |
123 |
|
9 |
2018 |
97 |
|
10 |
2019 |
5042 |
|
Sumber: Ditjen P2P Kemenkes RI, 2020 |
||
Berdasarkan kasus diatas bahwa pada tahun 2018 mengalami penurunan sebanyak
94 kasus dan ketika 2019 kasus meningkat dengan jumlah 5042 dimana insiden kasus ini menjelaskan ada
peningkatan kasus penyakit cikungunya
pada tahun 2019 yang membuat kita harus menanggulagi penyakit tersebut dengan
cara menendalikan dan menggobati penyakit cikungunya supaya penyakit tersebut
tidak meningkat untuk tahun kedepanya.
Daftar Pustaka
Hadi, U. K. (2013). Penyakit Tular Vektor: Penyakit Chikungunya.
Masrizal, M. (2010). Penyakit Menular
Chikungunya. Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas, 5(1), 41-46.
Tusila, E. D. (2016). GAMBARAN PENGETAHUAN MASYARAKAT DEWASA TENTANG PENYAKIT CHIKUNGUNYA (Doctoral dissertation, STIKES Panti Waluya Malang).
